Minggu, 12 April 2009

Blue Ocean Strategy Versus Local Wisdom (Sastera Tutur Tadut )

”Adat tadut la lame baghi
Siape lagi ka neruskanye..? “
.....
dimane ade bilah
bila ade di dalam buluh
dimane bada Allah
Allah ade di dalam tubuh
(Seni Tadut sudah lama purba
siapa lagi yang akan meneruskanya ?
….
dimana ada bilah
bilah ada di dalam buluh
dimana tempat Allah
Allah ada di dalam tubuh)


Itulah bait terakhir dari sastera tutur Tadut yang dituturkan dengan miris oleh Nurbayu pada saat pementasan tadut di Hotel Horison Selasa tanggal 14 Maret 2006 yang lalu, awalnya memberikan kesan “kuno”, ”ulu” dan “Kampungan”, tetapi dia menjadi berbeda ketika dilakukan revitalisasi bentuk, dan mendapat respon dari beberapa pengamat budaya, paling tidak ada tiga artikel di tiga media cetak yang menyoroti khusus pementasan ini beberapa hari kemudian, dan sebuah TV lokal melakukan Siaran Tunda untuk program acaranya. Ternyata tadut ini memang menarik untuk ditulis, meskipun dari beintuk merupakan sastera tutur yang dituturkan pada majelis ta’lim pada tahun 1900 di daerah Besemah, tetapi dari isi, sastera tutur ini sangat kaya dengan kearifan lokal, ajaran ma’rifat, hakikat dan tarikat. Saya melihat ada benang merah antara konsep tadut dengan Konsep Blue Ocean Strategy, karena sama-sama berasal dari praktik dan pengalaman empirik tempo doeloe. Strategy ini merupakan hasil riset terhadap 30 industri antara tahun 1880 sampai tahun 2000, yang mampu bertahan terhadap persaingan. Bayangkan jika hal ini tidak ada yang meneliti dan menjadikannya sebagai sebuah strategy, maka konsep tersebut hanya akan menjadi sebuah sejarah.

Blue Ocean Strategy merupakan konsep W Chan Kim Seorang professor managemen dan strategy dari Boston Consulting Group yang ditulis bersama Renee Mauborgne, memberikan pencerahan baru bagi dunia manajemen. Buku tersebut merupakan buku manajemen bestseller dunia yang mempengaruhi konsep-konsep manajemen internasional. “Tampaknya semua strategy marketing di dunia saat ini, harus di resign dan melihat kembali strategy marketing yang dikembangkan oleh W Chan Kim” demikian penjelasan Hermawan kertajaya pada suatu seminar beberapa waktu lalu. “Sebegitu menarikkah strategy manajemen ini ?” sehingga menyita perhatian pakar-pakar marketing dunia.
Pada saat ini ada dua strategi manajemen di dalam praktik bisnis perusahaan modern, yaitu “blue ocean dan red ocean”. Dalam praktik bisnis selalu terjadi peperangan untuk memperoleh pasar, tanpa disadari bahwa mereka berperang di dalam segmen yang sama, karena segmen tersebut sudah jenuh dengan pesaing, sehingga seratus persen merah dan berdarah-darah “Red Ocean”, kondisi tersebut memperkecil segmen bagi tiap-tiap pesaing, semakin kecil segmen yang dikuasai, semakin kecil profit yang didapat. Peperangan memperebutkan “market leader” membutuhkan biaya yang tidak sedikit, terutama biaya untuk melakukan penetrasi pasar, karena setiap pesaing mempersiapkan strategi dengan biaya yang juga cukup besar. Dapat dibayangkan jika ada 100 pesaing yang sama-sama menggempur segmen pasar yang sudah berdarah-darah itu, maka akan semakin kuat semangat untuk saling mengalahkan melaui perang harga, perang diskon, dan perang promosi, tentunya di akhir pertempuran pasti ada yang knock out, atau paling tidak dirawat akibat pertempuran yang keras tersebut, padahal di dalam konsep W. Chan Kim, banyak strategi yang harus dilakukan dengan tidak harus masuk ke dalam pertarungan. Perusahan harus bisa membaca dan mendeterminasi pasar tanpa harus berhadapan dengan pesaing yang segmentasinya sudah 100 persen jenuh. Caranya dengan melakukan pembaharuan dan inovasi terhadap nilai (value inovation) produk dan jasa perusahaanya, dengan mencari segmentasi baru yang seratus persen biru “Blue Ocean”, sehingga persaingan menjadi tidak relevan dan otomatis biaya produksi dapat ditekan. Strategi ini bukan merupakan strategi untuk keluar dari kompetisi dimana segmen industry tersebut sedang berjalan, tetapi merupakan sebuah strategi dalam menciptakan pangsa pasar baru.
Salah satu cara untuk keluar dari Red Ocean Strategy dan masuk ke dalam Blue Ocean strategy, maka W Chan Kim menyediakan alat untuk melakukan identifikasi yang disebutnya Empat Kuadran Kerangka Kerja, alat ini berfungsi untuk melakukan Indentifikasi terhadap nilai “value” yang menyebabkan komponen berbiaya tinggi “high cost component” , menghapus “Eliminate” serta mengurangi “Reduce” nilai-nilai yang menyebakan komponen yang berbiaya tinggi, kemudian meningkatkan ”Raise” dan membuat “Create” inovasi nilai-nilai tersebut sehingga mendorong terciptanya komponen berbiaya rendah “low cost component” . hal ini tercermin di dalam 4 kuadran kerangka kerja Blue Ocean Strategy, yang terdiri dari ”Eliminate, Raise, Reduce dan Create”.
Berdasarkan konsep Blue Oceans Strategy terbit tahun 2005 dari W Chan Kim seorang Dr. Marketing dari Harvard yang bukunya sangat fenomenal tentang marketing yang intinya antara lain mempunyai 9 kesimpulan antara lain : Strategi Samudera Biru SSG atau BOS adalah hasil dari studi panjang satu dekade terhadap lebih dari 30 industri dan periode yang lebih dari 100 tahun (1880-2000).


SSG adalah alat diferensiasi yang simultan dan berbiaya rendah.
tujuan SSG bukan merupakan strategi untuk keluar dari kompetisi dimana industry yang sedang exis, melainkan merupakan strategi dalam menciptakan pangsa pasar baru atau blue ocean sehingga membuat kompetisi menjadi tidak relevan SSG merupakan sebuah kesatuan antara metodologi dan alat untuk membuat pengsa pasar baru Ketika inovasi terlihat secara acak atau proses ekperimen dimana wiraswasta dan merupakan putaran dari pengendalian utama sebagaimana yang diargumentasikan oleh Schumpeter dan pengikutnya- SSG merupakan metodologi yang sistematik dan dapat direproduksi dalam memkover inovasi keduanya antara perusahaan yang baru atau yang sudah eksis
Kerangka Kerja BOS dan alat-alatnya termasuk: strategy kanvas, kurva nilai, empat kerangka kerja, enam path, siklus pengalaman pembeli, peta pemanfaatan pembeli, dan index idea blue ocean
Kerangka Kerja dan peralatan ini dirancang untuk diperlihatkan secara berurut tidak hanya membangun kebijaksanaan kelompok secara efektiv dari perusahaan tetapi juga keputusan yang efektif dengan komunikasi yang mudah. BOS mencakup keduanya formula strategy dan keputusan strategy Tiga Kunci membangun konsep BOS adalah : Inovasi terhadap Nilai, menghapus point-point leadership, dan proses yang fair. Dari hasil kesimpulan terhadap buku tersebut menurut hemat kami dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam strategy marketing Bank Sumsel antara lain, bahwa perlu ada pembaharuan strategy terhadap segmen pasar dan pesaing. Didalam Konsep BOS, Segmen pasar yang Red ocean (100 persen merah dan berdarah-darah, terlalu banyak pesaing) menyebabkan high cost component karena dibutuhkan biaya yang cukup besar untuk berskompetisi pada segmentasi pasar yang red ocean, karena perusahaan selalu mengamati pesaing untuk melakukan perang, padahal segmentasi tersebut sudah 100 persen merah . Sementara kondisi tersebut diperparah dengan kondisi persaingan yang semakin keras.
Sedangkan didalam konsep BOS, perusahaan harus mencari inovasi produk segmentasi pasar baru yang benar-benar biru, karena keluarannya adalah perbaikan terhadap nilai dari red ocean ke blue ocean. W. Chan Kim menyarankan untuk menggunakan 4 kuadran kerangka kerja Blue Ocean Strategy, yang terdiri dari Eliminate, Raise, Reduce dan Create.


Kerangka Kerja Blue Ocean Strategy dan alat-alat tersebut di atas merupakan salah satu yang dapat digunakan oleh perusahaan, karena masih banyak alat yang digunakan oleh W Chan Kim antara lain strategy kanvas, kurva nilai, enam jalur, siklus pengalaman pembeli, peta pemanfaatan pembeli, dan index idea blue ocean. Kerangka Kerja dan peralatan ini dirancang W Chan Kim untuk memperlihatkan secara berurutan, tidak hanya semata-mata menciptakan kebijaksanaan kelompok secara efektif, tetapi juga keputusan yang efektif dengan sederhana. Konsep serius ini merupakan sebuah kumpulan pengalaman yang berharga, bahwa praktik-praktik manajemen yang dilakukan oleh pebisnis tempo doeloe, yang dulunya dianggap penakut karena menghindari dan keluar dari persaingan Red Ocean Strategy, ternyata saat ini menjadi sebuah stategy manajemen yang fenomenal. Sama halnya dengan kesenian Tadut yang hampir punah tersebut, jika tidak ada orang yang melakukan riset dan revitalisasi terhadap konsep-konsep kearifan lokal, maka tidak akan ada konsep atau strategy baru yang akan muncul berdasarkan pengalaman empirik tempo doeloe. Karena ternyata sastera tutur telah banyak melahirkan Disertasi Doktor bagi beberapa peneliti asing.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar