Sabtu, 07 Maret 2009


JAMES GWEE versus PARAMESWARA
“ The Tales of Two City



Tak pelak lagi James Gwee adalah Motivator paling laris di Indonesia saat ini, termasuk juga di Palembang, terutama teknik – teknik memotivasi karyawan, dan materi lainnya, seperti handling complaint professionality, professional Telephone Skill and Customer Service dan seminar-seminarnya selalu dipenuhi oleh tenaga pemasar dan front liner dari berbagai perusahaan, mengapa seminar James selalu dipenuhi peserta padahal materi seminarnya bukan materi yang luar biasa, dan sudah sering dibawakan oleh tenaga pengajar lainnya, banyak orang yang mengatakan jika factor utamanya adalah kemampuan presentasi James yang luar biasa disertai networking Media yang cukup baik, plus James adalah orang Singapura peranakan Melayu yang mampu memahami prilaku orang Indonesia dengan baik dan sangat fasih berbahasa Indonesia, sementara sebahagian besar professional Singapura dididik dengan bahasa pengantar Inggris, dan Mandarin, selain itu positioning Singapura selalu dipersepsikan satu level lebih tinggi dari Jakarta, apakah pendidikan, disiplin, efisiensi, dan prilakunya cenderung dianggap lebih baik dan menjadi Inspirasi orang-orang Asia Tenggara. Jadi apapun barang dan jasa yang dibranded dari singapura di persepsikan orang Indonesia pasti lebih baik, padahal belum tentu, sebahagian besar materi tekstil banyak berasal dari Indonesia, dan di branded di Singapura dengan harga yang lebih tinggi. Kemampuan menggali dan membuat perubahan ini juga mereka tunjukkan ketika orang-orang pemerintahan di Singapura mau Libur sehari untuk memahami strategi baru tentang Marketing “Blue Ocean Marketing” .

Lalu apa kaitannya James Gwee dengan Parameswara, ternyata ada kaitan histrorical marketing yang sangat kuat, karena strategi marketing pertama di Singapura dan Melaka justru diajarkan oleh leluhur orang Palembang. Dengan kata lain siasat bisnis pertama dalam perdagangan pada abad ke 14 diajarkan oleh parameswara hingga ke raja-raja Melaka selanjutnya. Di dalam Sejarah Melayu dan Sejarah Indonesia Parameswara adalah bangsawan Palembang yang lahir tahun 1334 M yang Hijrah ke Temaseek (Singapura) ketika Sriwijaya ditaklukan Majapahit dan dia berhasil membangun Bandar di Singapura dan Malaka pada abad ke 14 , di dalam catatan buku kuntala Sriwijaya dan Swarnabumi karangan DR Slamet Mulyana, dijelaskan bahwa Parameswara adalah bangsawan yang mempunyai bakat bisnis yang luar biasa dan mampu mengelola pelabuhan Malaka berkat kemampuan dan pengalaman dari leluluhurnya di Palembang dalam mengelola pelabuhan Melayu (jambi). Pada masa itu Parameswara mampu memaksa kapal-kapal yang berlayar di Selat Melaka untuk singgah, dan bongkar muat di Pelabuhan Malaka, serta memungut biaya dari pemakaian gudang dan lalulintas pelayaran di Selat Malaka. Desa Malaka yang tadinya merupakan desa nelayan dan tanah yang tandus menjadi ramai sebagai Bandar tempat persinggahan, semenjak itu berubahlah desa nelayan menjadi kota pelabuhan dengan gudang-gudang penyimpanan yang lengkap, ternyata kemampuan Bisnis ini didapat ketika dia masih menjadi bangsawan di Palembang, Menurut buku sejarah peradaban manusia zaman Sriwijaya bahwa pada pertengahan abad 14, Palembang dikelola oleh seorang Demang (Mahapatih ) yang Sangat bijak yaitu Demang lebar Daun, dan dari hikayat yang lain menyebutkan bahwa nama Singapura diberikan oleh pameswara dan Demang Lebar daun ketika melakukan ekpedisi ke Temasek/Tumasik.



Menurut versi Portal Resmi Kerajaan Negeri Melaka. Sejarah Melaka bermula ketika Parameswara putera raja dari Palembang telah terlibat dalam peperangan merebut takhta kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-14. Setelah ditumpas oleh Majapahit, dan lari mencari perlindungan ke Temasik yang pada ketika itu dikuasai oleh Siam. Setelah diusir dari Temasik oleh penjajah dari Siam, pada tahun 1396, beliau dan pengikut-pengikutnya mengundurkan diri ke Muar dan kemudian ke Sungai Ujong sebelum singgah di Bertam yang berdekatan dengan muara sungai Melaka.


Pilihan Parameswara begitu tepat sekali karena kedudukan Melaka yang strategik. Lokasinya di tengah-tengah tebing Selat Melaka yang menghubungkan negara China ke India dan Timur telah menjadikannya tempat yang amat sesuai sebagai pusat perdagangan. Kedatangan pedagang-pedagang Arab serta pedagang-pedagang dari Timur dan Barat telah menjadikan Melaka sebagai sebuah pelabuhan (Bandar) yang sibuk dengan ratusan kapal yang singgah setiap tahun. Parameswara yang telah memeluk Islam melalui seorang ulama dari Jeddah pada tahun 1414 telah meletakkan asas kemajuan negeri Melaka sebagai pusat perdagangan dan pengembangan agama Islam yang terulung di rantau ini.


Melaka terus terkenal sebagai pusat perdagangan Melayu di Timur. Antara barang dagangan yang terdapat di Melaka adalah sutera dan porselin dari China, kain dari Gujarat serta Coromandel di India, kapur barus dari Kalimantan, cendana dari Timor, buah pala dan bunga cengkih dari Malaka, emas dan lada hitam dari Sumatera serta timah dari Tanah Melayu.


Di dalam sebuah Workshop “ The Tale of Two City” yang di selenggarakan MarkPlus bulan Juni yang lalu Hermawan Kertajaya memandu dua pembicara pertama setiadi Ongko orang Indonesia yang mampu menaklukan Singapura dengan Atelier Eastnya di bidang Properti, yang kedua adalah James Gwee orang Singapura yang berhasil menaklukan Indonesia, yang mengungkapkan tentang stategi marketing James dalam menaklukan Pasar Indonesia Untuk Bisnis training, dan betapa James berkesimpulan tidak ada strategi marketing yang tepat untuk Indonesia karena prilaku manusianya yang heterogen dan dia melihat bahwa pasar Indonesia merupakan pasar yang besar dan konsumtif ” Huge and Hungry Market” , apapun yang di lempar di Jakarta pasti dibeli oleh orang Jakarta sedangkan di Singapura semua sangat efisien, efektif, padahal abad ke 14 yang lalu nenek moyang orang Palembanglah yang berhasil membangun perdagangan di Malaka dan Singapura, mengapa sekarang tidak walahualam, Paling tidak spirit yang muncul pada masa swarnabumi dan Sriwijaya tersebut menghilhami kita tentang keteguhan hati, semangat membangun yang tinggi, dengan keterbatasan sumberdaya, kedisiplinan, kebijakan, Demang lebar Daun dan Parameswara untuk bangkit, dan tampaknya spirit itu telah mulai muncul di Sumsel pada strategi pelabuhan Samudera Tanjung Api-api dan konsep kota taman yang memberi warna baru kota Palembang dan di Bank Sumsel spirit itu muncul lewat Giro Demang (Lebar Daun). seorang sahabat mahapatih sahabat parameswara.

Percaya?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar