Sabtu, 28 Maret 2009

STRATEGI KAMPANYE VS STRATEGI PROMOSI

Suatu malam seorang sahabat saya datang ingin menawarkan mobilnya untuk dijual kepada saya. Saya juga agak heran padahal mobil tersebut masih tergolong baru, ternyata dia membutuhkan uang untuk mengikuti kampanye karena dia akan menjadi seorang caleg dari sebuah partai.


Ketika saya tanyakan apakah untuk menjadi caleg butuh dana cukup besar , menurutnya menjadi caleg saat ini tidak hanya mempunyai dana besar tetapi juga harus memahami strategi kampanye. Seorang caleg harus memahami bahasa promosi dan komunikasi pemasaran. Membuat sarana promosi sekarang memang tidak murah lanjutnya, seperti mencetak brosur, leaflet, kaos, baliho dan umbul-umbul belum lagi even –even Below The Line lainnya misalnya, ceramah di komunitas ibu-ibu arisan atau RT dan tempat tempat tertentu.


Beda sekali pada saat pemancangan ketua adat zaman dahulu dulu ada istilah "Mancang Pesirah", si calon pemimpin marga hanya diberi simbol yang sangat sederhana seperti simbol pisang, kelapa, jeruk dan jenis buah lainnya, mengapa begitu, mungkin dahulu belum ada media komunikasi seperti sekarang.

Masyarakat sekarang sudah memahami teknologi informasi, ucapnya. Saya juga agak tergagap-gagap ketika itu.

Strategi promosi yang menurut saya hanya dipahami untuk kalangan pebisnis dan orang pemasaran saja, ternyata mau tak mau harus dipahami juga Calon Legislatif, dan sebahagian menggunakan konsultan marketing untuk ini, selain pemahaman yang cukup bagus oleh para caleg dewasa ini.

Ternyata padan kata atau terminologi dari kampanye (campaign) adalah pertarungan (fight) atau perang (battle), yaitu membuat strategi untuk memenangkan pertarungan. Hal ini sama dengan strategi perang Tzun Su yang saat ini tengah hangat dibicarakan oleh beberapa kalangan bisnis dan marketing dalam memenangkan persaingan pasar.


Hal ini sangat menarik karena strategi perang Tzun Zu tidak semata – mata berkaitan dengan kata darah, peluru, atau pedang karena ada strategi untuk memenangkan perang tanpa banyak menggorbankan prajurit atau menghambur-hamburkan amunisi, misalnya dengan (zoo marketing) sebutir peluru dapat menembus ratusan bahwa ribuan target.

Melihat korelasi yang sangat erat antara pemahaman kampanye dan promosi tersebut maka secara sederhana kampanye dan promoseni bermuara ke satu kalimat “Battle of Idea” Strategi memenangkan pertarungan di benak konsumen sesuai dengan konsep positioning Al Ries dan Jack Trout.

Siapa yang sudah cukup kuat menempelkan merek ke benak konsumen (brand mindset) itu yang akan memenangkan persaingan. Penemuan terhadap media komunikasi yang berteknologi tinggi membuat strategi promosi dan pemasaran berubah sangat cepat, jika sebelumnya deal-deal transaksi perdagangan dilakukan dengan mengunakan kertas maka saat ini deal-deal transaksi hanya membutuhkan kode-kode transaksi tanpa menggunakan kertas (paperless) yang akan di kompilasi dari bilangan biner ke dalam bahasa komputer. Hal ini juga berkembang dalam melakukan kampanye dan promosi, apabila zaman dahulu ketika akan diadakan pemancangan (pemilihan ) pesirah atau kepala desa maka media pemberitahuannya cukup digunakan canang (sejenis gamelan) yang dipukul untuk menjelaskan kepada warga setempat bahwa ada pengumunan. Saat ini hal tersebut sudah jauh ditinggalkan.


Tim sukses capres atau cawapres akan menghaer konsultan media promosi yang paling canggih saat ini, untuk mempromosikan program-programnya baik dengan media above the line maupun below the line. Dan biaya untuk kampanye ini cukup besar guna memuaskan calon pemilihnya dengan harapan calon pemilihnya dapat memilih dia. Dalam marketing hal ini dijelaskan oleh Philip Kotler sebagai “satisfying needs profitability” (kepuasaan nasabah dan keuntungan mempunyai hubungan resiprositas yang sangat erat).


Perusahaan tidak semata-mata hanya mendapatkan profit yang besar tanpa memberikan kepuasaan kepada nasabah, begitupun sebaliknya. Setiap kepuasan nasabah yang diberikan oleh perusahaan harus dapat menghasilkan profit. Hal ini juga dipahami betul oleh tim sukses capres tersebut. Ada yang meggunakan spot iklan televisi, ada yang melakukan komunikasi ke pesantren, ada juga yang menggunakan komunitas artis sebagai strategi kampanye. Masing-masing mempunyai strategi yang berbeda. Dalam teori pemasaran hal tersebut dikenal dengan istilah “differentiation” , sebuah produk harus berbeda dari produk sejenis, dia harus unik di benak konsumen. Dia juga harus bisa meningkatkan penjualan “need and demand “ agar target promosinya bisa tercapai. Urusan mencapai target saya kira sama: semua ingin memenangkan sebuah peperangan. Apakah sasaran tembak peperangan klien atau calon pemilih yang kita tahu saat ini berada pada posisi menunggu.


Beberapa catatan penting yang perlu digarisbawahi oleh caleg, adalah "Memenangkan Hati Konsumen", tidak harus berbiaya besar, karena survey menunjukkan penggunaan Above The Line untuk kampanye cerdas seperti di Televisi , Radiod an Koran semakin berkurang peminatnya, selain berbiaya besar, sebahagian masyarakat sudah dapat memilah mana iklan mana program, Selain itu segmennya hanya menggapai "segmen" Long Term Perspectif , yang menurut hasil survey maksimal 20 sd 25 Masyarakat cerdas di Indonesia, sisanya adalah adalah segmen Short Term Perspectif yang sebahagian berpendidikan rendah, tidak membaca koran, jarang menonton televisi, tidak pernah mendengar "talkshow Radio" apalagi member Facebook,..

Jadi Caleg yang mampu memenangi hati 60 sd 75 segmen short term perspectif adalah yang akan dipilih oleh rakyat, segmen ini adalah segmen berpikir sangat sederhana, besrpikir untuk perspectif jangka pendek, sehigga sangat terpengaruh dengan mie instan atau sembako atau kampanye yang berbasis kesejahteraan , seperti kebutuhan primer. Selamat Berjuang


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar