Minggu, 08 Maret 2009

Wacana M. Iqbal J. Permana

MONEY LAUNDERING VERSUS PAPAN BASUAN

APABILA kita menyebut kata ‘CUCI’ maka kita akan teringat dengan budaya kebersihan yang artinya membersihkan sesuatu dengan air.Budaya mencuci bangsa melayu yang sejak zaman dahulu telah diwarisi dalam kebudayaan melayu,terutama budaya mencuci untuk daerah-daerah aliran sungai di sumatera.Kata mencuci sepertinya merupakan kegiatan rutin yang hampir setiap hari dilakukan oleh masyarakat Sumsel yang daerahnya dialiri sungai. Banyak istilah daerah untuk menyebut perangkat mencuci,seperti‘papan basuan,papan bilesan,telesan,bong,lanting’dan lain-lain yang digunakan mulai dari mencuci pakaian,mencuci beras,sampai kegiatan Mandi Cuci Kakus. Dalam kebudayaan modern sekarangpun telah dibuat perangkat mencuci secara elektronis menggunakan dinamo listrik yang menjadi trend budaya mencuci kaum metropolis saat ini.

Tetapi kata cuci menjadi seram ketika dikaitkan dengan terminologi keuangan dan perbankan seperti kata “cuci uang” atau money loundering.Perangkatnya menjadi lebih rumit dan medianya tidak lagi air, bong atau lanting tetapi sudah merambah ke media yang sangat cangggih seperti cyber banking, money market dalam bentuk placement dan transfer dana dan capital market dalam bentuk pembelian saham.



Lalu apa hubungan antara papan basuhan dengan money laundering?Sebenarnya keduanya mempunyai fungsi yang sama yaitu untuk membersihkan.Kalau papan basuhan fungsinya untuk mencuci pakaian yang kotor menjadi bersih,maka money launderingberfungsi untuk mencuci uang kotor atau uang haram menjadi uang yang bersih sehingga uang hasil kejahatan tersebut menjadi hilang jeleknya dan dapat dipergunakan dengan aman.Sehingga dapat disimpulkan bahwa masyarakat biasa dan penjahat pencuci uang ternyata mampunyai haikat yang sama yaitu sama-sama mencintai kebersihan.Hanya benda yang dicuci membedakannya selain itu kalau masyarakat akan mencuci pakaian dia akan ke sungai, maka penjahat akan pergi ke bank atau ke pasar saham untuk mencuci uangnya.

Bank memang tempat yang paling rawandalam kegiatan pencucian uang karena pekerjaan bank adalah mengelolah uang masyarakat yang mempunyai risiko-risiko operational yang juga cukup tinggi,sehingga bank dituntut untuk mengelola risiko tersebut menjadi sebuah profit.Pengelolaan tersebut biasanya dalam bentuk manajemen risiko serta peraturan perundang undangan seperti UU Nomor 15 tahun 2002 tentang tindak pidana pencucian uang.Di dalam undang-undang tersebut juga dibentuk “mesin anti pencucian uang”atau secara formal disebut PPATK (Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan) dan peraangkat hukum lainnya.[K]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar