Sabtu, 07 Maret 2009

MEMBACA PASAR vs MEMBACA RAMALAN


Ada yang menarik dari Simon Jonathan, seorang konsultan marketing yang juga praktisi Marketing dan juga bintang iklan sebuah produk perawatan gigi, ketika menjadi pembicara dalam sebuah Seminar Marketing yang digagas oleh kawan-kawan dari Asosiasi Manajemen Sumsel, AMA pada tanggal 2 Desember 2006 yang lalu tentang Marketing Driver Quotient (MTQ). Menurut dia, produk-produk yang sukses dilaunching di pasar di lakukan oleh mereka yang memiliki kecerdasan dalam mengendalikan pasar, orang, dan perusahaan. Simon menyebutnya MDQ untuk membedakan Inteligent Quotient (IQ) dan Emotional Quotient (EQ) atau Spiritual Quotient (SQ). Simon yang membidani lahirnya produk Ekstra Jossminuman energi dalam sachet produk unggulan Bintang Toedjoemengaku betapa sulitnya meyakinkan sebuah visi kepada atasannya. “Minuman kok kayak bubuk detergent,” cemooh atasannya ketika itu. Tetapi Simon tetap berkeras hati dan akhirnya berhasil meyakinkan atasannya, dengan melakukan launching di kota-kota kecil dahulu, mengingat atasannya ingin mendapatkan benefit langsung dengan sales yang cukup tinggi dalam waktu singkat. Karena launching produk baru untuk seluruh area biayanya sangat tinggi. Setelah hasilnya memuaskan, barulah Bintang Toedjoe melaunching produk ini secara besar-besaran. Tetapi bukan berarti setiap produk selalu berhasil. Nyatannya produk Irexsuplemen simbol kejantanan priatidak begitu sukses dalam penjualan, meskipun iklan Irex sangat berpengaruh dalam mindset masyarakat. Disini jelas terlihat bahwa terkadang sebuah komunikasi atau promosi yang sukses tidak serta merta berbanding lurus dengan salesnya, meskipun promosi berhasil belum tentu salesnya berhasil. Menurutnya kegagalan tersebut disebabkan oleh benefit produknya sendiriefek depan yang di harapkan dari sebuah planning yang matang, tetapi efek samping yang kadang-kadang muncul ketika produk tersebut masuk ke pasar ujarnya sambil berseloroh

Simon memberikan tiga kunci dalam me”launching sebuah produk. Pertama adalah Mastery yang mensyaratkan bahwa kita harus benar-benar ahli dan memahami fitur dan benefit produk yang akan kita buat.Kemudian Desire, bahwa kita harus bersemangat dalam memahami produk serta mempunyai Quantum yang tepat. Kecerdasan marketing ini juga menuntut kemampuan untuk mekihat kedepan seperti visi dan proyeksi yang detail dan jelas.

Sebuah produk yang berhasil di pasar kadangkala tidak semata-mata hanya mengandalkan riset,segmentasi,targetin,positionig\ng,serta survey yang memadai tetapi juga harus diikuti dengan visi, wisdom, experience dari produsen serta trend dari perilaku konsumen.sama halnya dengan produkConsummer Banking”seperti tabungan,giro deposito,kartu debit,kartu kredit, yang sebagian besar mengandalkan teknologi informasi sebagai pendukungnya (IT BASE) sebagai basis untuk menunjang layanan perbankan terkini.Orientasi menabung sebagai alat untuk berjaga-jaga paling tidak telah mengalami perubahan fungsi,orientasi nasabah telah bergeser ke fungsi transaksi dan pembayaran di mana produk tabungan selalu di kaitkan dengan fungsi cek saldo,transfer,pembaayaran tagihan,telepon,listrik,isi pulsa,bayar SPP,sampai pembelian tiket pesawat dan lainnya,sehingga sangat signifikan tabungan sangat kecil kolerasinnya dengan fluktuasi suku bunga,tetapi berkolerasi secara signifikan denagn fungsi layanan.


Jika service level sebuah layanan TI di bawah 70%-80% saja, maka pertumbuhan tabungan akan terpengaruh sangat signifikan, bahkan sampai terjadi pemindahan dana ke bank pesaing. Basis TI diperlukan untuk meningkatkan jumlah nasabah, semakin besar nasabah, semakin besar fee base incomennya. Pendapatan dari fee base di atas 1 trilyun rupiah tahun ini diraup oleh bank BCA, Bank Mandiri dan BNI. Basis fee base ini didukung oleh TI yang kuat, ternyata ternd ini juga menjalar ke BPD di Indonesia,di mana pertumbuhan dana pihak ketiga melonjak 60,40% lebih besar dari rata-rata pertumbuhan dana pihak ke tiga perbankan nasional yang hannya tumbuh13,50% dari angka perbandingan bulan Agustus tahun 2005 di banding Agustus 2006.

Pada November dan Desember semua perusahaan yang mempunyai visi telah melakukan proyeksi untuk tahun 2007.Ada yang mengguankan teori Ekonomi dari Hardvard untuk proyeksi,tetapi ada juga yang menggunakan fengsui untuk menerawang peruntungan di tahun 2007.Tahun depan adalah tahun babi api yang diyakini sebagai tahun keamanan bagi perekonomian,sebab air dan api merupakan element penting dalam kehidupan.Begitu juga beberapa pebisnis dan percaya primbon,pasti telah menghitung hari pasaran,weton,untuk memulai bisnis,rebo pahing kah?,atau jum`at wage kah?begitupun di dunia perbankan,banyak prediksi,proyeksi,bahkan ramalan dari pakar maupun cenayang tetap dijadikan petunjuk bisnis dalam membaca pasar,yang pasti pertarungan di dunia bisnis tahun 2007 akan semakin seru dan penuh persaingan.

Godo Tjahyono, Technical Advisor IARFC yang juga menjadi narasumber kinerja bank, meramalkan bahwa sektor riil akan mencapai peaking up,dunia usaha yang bagus dijadikan pilihan investasi,antara lain telekomunikasi, otomotif, properti dan perbankan. Sementara bank Indonesia meramalkan pertumbuhan ekonomi tahun 2007 juga akan membaik dengan turunnya BI rate diikuti dengan membaiknya indikator ekonomi makro bulan oktober, november 2006. Tingkat validitas dari sebuah proyeksi ditentukan oleh sumber data yang masuk. Semakin lengkap data yang dikumpulkan baik data primer maupun sekunder, maka akan semakin kecil tingkat penyimpangan proyeksi (error). tetapi proyeksi juga dapat menyimpang jauh dari yang di harapkan jika faktor eksternal yang diramalkan berubah secara drastis. Sama halnya dengan proyeksi yang dihasilkan oleh buku primbon dan fengshui, jika salah menetapkan hari, tanggal, tahun lahir, atau posisi lokasi tempat usaha, jumlah genap ganjil undakan tangga, maka ramalan akan meleset sama sekali. Sekarang terserah kita apakah berminat menggunakan jasa cenayang seperti Mama Laurens, Madame Sahara atau pakar fengshui untuk membantu proyeksi peruntungan bisnis kita tahun 2007. Jika perlu pakar ekonomi ECONIT, INDEF, atau Harvard untuk membantu menyusun proyeksi bisnis, atau bahkan menggabungkan proyeksi bisnis, atau bahkan menggabungkan keduannya Wallahu`alam. (Desember 2006)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar