Kamis, 26 Maret 2009

KI GEDE ING SURO versus KI GEDE In MARKETING

Pada tanggal 27 Agustus 2005 lalu setelah rapat kerja Direktur Bank Pembangunan Daerah Seluruh Indonesia (BPDSI) berakhir, saya menemani pak Hafid Star dan pak Yudhi motor penggeraknya asosiasi bank pembangunan daerah (ASBANDA) untuk city tour keliling palembang, menyusuri situs peninggalan Kesultanan Palembang Darusalam.
City Tour kami dimulai dari pelataran plaza benteng kuto besak hingga pinggiran”loji’’sungai sekanak dan di simpang suro ini dinamai jalan ki gede ing suro, entah sejak kapan . Menurut keterangan teman saya ,Ki Gede Ing Suro adalah julukan seorang dalam bahasa palembang berarti kyai yang di besarkan dalam tradisi surau atau mesjid. Ki gede ing suro adalah nama julukan pendiri kesultanan palembang darusalam. konon kabarnya mesjid suro adalah salah satu mesjid yang didirikannya. karena pada era kesultanan fungsi masjid menjadi sangat penting dimana sultan, ulama,dan masyarakat sering melakukan aktivitas ibadah ,maupun muamallah secara bersama dimana keberadan suro/sarau pada zaman kesultanan sangat penting
Para ulama besar di Masjid Agung Palembang secara tradisional merupakan guru dan penasihat Sultan sejak remaja, maka tak heran ulama besar pada zaman kesultanan seperti Syech Abdussamad Al Palembani adalah salah seorang yang dikenal di tanah Melayu, karena kitab-kitab yang ditulisnya
Konon kabarnnya sebagian besar kitab-kitab kuning yang diajarkanya menjadi pegangan sebagian besar ulama dan santri di Malaysia.Meski tak sepopuler Syech Yusuf (atau Tuan Yusuf dari Makasar)yang menyebarkan agama islam di Cape Town Afrika Selatan atau Ki Merogan atau Kiai Muara Ogan yang legendaris itu, atau Tan di Pulau, yang menyebarkan Islam melalui Sungai Komering dan memipunyai personal branding yang sangat kuat terhadap ma'mumnya.
Tetapi peran Abdussamad Al Palembani di Palembang dan beberapa wilayah di Sumatera tak dapat disepelekan. Lain dulu lain sekarang, jika dahulu para pemuda memfokuskan aktivitasnya di surau atau langgar, saat ini para pemuda lebih suka nongkrong di Mall atau Kafe Mereka, para pemuda itu bisa kita sebut ‘gede in mall’atau ‘gede in kafe’’ atau besar dalam tradisi Cafe atau Mall.
Lalu apa kaitan antara Ki Gede ing suro dan Marketing?
dalam tarikh islam antara aktivitas ulama dalam beribadah dengan muamallah (berdagang)merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan dari tradisi islam.
Islam masuk ke Samudera Pasai pada abad ke 13 disebarkan oleh pedagang dari Gujarat (asia Barat)yang sembari berdagang juga melakukan ‘syiar’
Hari ini kita melihat sosok itu muncul kembali di Indonesia lewat Da’i sejuk Abdullah Gymnastiar. Abdullah Gymnastiar lebih dekat dipanggil Aa’Gym (penyebutan ‘Aa’ sebagai akronim kakak memberikan nuansa lain dalam tradisi keulamaan di Indonesia, coba dibandingkan dengan penyebutan ‘Gus’ dalam pesantren Jawa Timur sebagai dari Akronim bagus) pada awalnya tidak ‘Gede Ing Suro ’( besar dalam tradisi pesantren)tetapi ‘Gede in Marketing ’’ alias besar di pasar.
Aa Gym yang kini memiliki lebih dari 30 perusahaan yang bermacam-macam itu memiliki bakat Marketing luar biasa , sehingga membuat ahli Marketing terkagum –kagum kepadanya, termasuk Hermawan Kertajaya.
Hermawan –pakar pemasaran itu perlu menambahkan point Spiritual Quotient di dalam konsep Humansentric Marketingnya, selain Intelligent Quotient dan Emotional Quotient. Menurut Aa Gym ada tiga kiat bisnis yang ia gunakan .
pertama adil, dengan adil tak ada yang teraniaya dan tak ada yang sakit hati dan disakiti (jika konsep ini dilanggar akan besar pengaruhnya) ,
kedua transparan, dengan transparan tidak ada yang ber buruk sangka karena bukti kejujuran yang sangat penting dalam bisnis .
ketiga,saling menguntungkan agar semua bahagia .
Sedangkan dalam mengembangkan produk dan jasanya, Aa Gym mempunyai 5 mu,
Mutu(Good Quality ),Murah(Good price),Mudah (Good Place ),Mutakhir (modern), dan multi manfaat .kiat-kiat tersebut merupakan kiat-kiat yang telah teruji dalam MQ Corporation ,perusahaan yang mempunyai banyak segmen bisnis , mulai dari pernerbitan ,percetakan,televisi,cottage, hotel, cafe,supermarket dll .
Semua kiat bersumber dari al quran dan hadits. Dan pada prinsipnya kiat-kiat tersebut prinsipnya universal dan lintas agama ,tidak untuk muslim saja ,karena konsep tersebut adalah’Rahmatan Lil Alamin’’bermanfaat bagi seluruh alam .Pada bulan September 2005 Hermawan bersama Tim Mark plus menerbitkan buku Aa Gym Aspiritual Marketer yang juga melibatkan editor Adiwarwan Azwar Karim yang menjelaskan 10 prinsip dalam melaksanakan marketing yang jujur .
Hermawan mendekatinya dengan pemahaman marketing modern dengan sepuluh kredo mulai dari love your constumer sampai kepada Gather relevant information , but use wisdom in making your final decision .
Konsep lain yang menggabungkan pemahan manajemen perbankan dan agama islam yang tertuang dalam buku A. Riawan Amin Tokoh perbankan Syariah yang menulis “The Celestial Management” (manajemen langit )dengan prinsip 3W Workship ,Wealth, dan Welfare)yang cukup signifikan dalam manajemen Bank Muamalat. prinsip itu diimplemetasikan melalui tiga konsep yaitu The Phisolophy of remembrance, ZIKR,(ZeroBase, Iman, Konsisten, Result Oriented).
Hal ini menunjukkan dikotomi antara Suro dan Marketing ternyata merupakan pemahaman yang sejalan dan saling melengkapi dalam tradisi Perniagaan Islam (prinsip syariah)Akhir-akhir ini banyak pemikiran marketing dan manajemen modern yang berorientasi kepada pemikiran tentang ‘spiritual’. berbisnis dengan mengutamakan nilai-nilai keimanan, berbisnis dengan jujur, berbisnis dengan hati, dan bisnis yang ber manfaat bagi semua alam, tidak mengesplorasi sumber daya secara berlebihan.tampaknya pemikiran ini sedang berkembang di dunia barat karena pandangan marketing melihat kejujuran dalam berbisnis adalah sebuah “value”, bahkan “brand” yang dapat berkembang multi ras dan multi agama.
Dari kedua dikotomi tersebut kita juga berharap agar kita juga tidak semata-mata menjadi’Gede in marketing’’saja, tetapi juga ‘gede ing suro’’ kaya dengan pemikiranya rohani atau seperti Gde Prama yang selalu menyejukkan dengan kata-kata yang bertempo sedang dengan timbre suara yang juga menyejukkan dalam pemikirannya tentang keseimbangan alam semestaBagaimana dengan kital sendiri apakah juga seperti Ki Gede Ing suro?
Mungkin manajemen terpicu dengan pemikiran spritual atau bisnis syariah memang menjanjikan, mengingat Bisnis Perbankan Syariah merupakan Bisnis Perbankan yang cukup menjanjikan maka insya Allah Bulan Maret ini Bank Sumsel Syariah akan meluncurkan Produk Gadai Emas Syariah , Naam! Ahlan Wa sahlan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar