Kamis, 26 Maret 2009

HIRAGANA VERSUS KAGANGA





Saya agak terkejut juga melihat perkembangan komik jepang (manga) yang sangat luar biasa merangsek pangsa pasar bacaan anak2 SD,SMP, SMA di Indonesia, bahkan Asia Tenggara, Jika kita ke Toko Buku seperti Gramedia di Indonesia atau jaringan raksasa Toko buku KINOKUNIYA sebahagian besar adalah Komik, (manga)ka malahan anak saya “bela-bela-in” beli kamus bahasa jepang untuk belajar bahasa Jepang dan chatting di Friendster dengan teman-temanya menggunakan huruf Hiragana, mungkin dia tidak tahu sejarah kelam Bangsa ini setengah abad yang lewat dimana sosok dan kekejaman Dai Nippon untuk menguasai Asia Timur begitu menyengsarakan rakyat, tetapi saat ini komik Jepang begitu luar biasanya mempengaruhi remaja di tanah air, sehingga anak-anak di Indonesia sangat mengenal dan mengidolakan tokoh-tokoh Komik Imajiner seperti NARUTO, DEWI KARIN CHU, SIGO CHARAI, KIYOSHIRO YUMEMIZU, ketimbang karya komik local yang memang hampir tidak ada, boro-boro mau memahami Aksara Kaganga, atau Sastera Tutur guritan Radin Swane, hal ini wajar saja karena sebahagian besar komik yang beredar di Indonesia (hampir 80 persen) adalah Karya dari Mangaka negeri Matahari Terbit tersebut.


Kita tidak protes dengan sejarah Penjajahan Jepang di Indonesia, tetapi yang mungkin kita protes adalah merasuknya Komik-komik Jepang di Indonesia lebih karena penerbit di Indonesia dan perilaku Konsumen di Indonesia masih memposisikan diri selalu lebih rendah satu level dari penerbit luar Negeri.
Padahal membaca komik merupakan sebuah trend yang dapat diciptakan, karena Menurut Adam Smith "Suplies its create owns demands" bukan hanya create by "supply and demand", seperti fenomena trend batik yang muncul kembali beberapa waktu yang lalu, fenomena marketing tanaman gelombang cinta atau fenomena walkman, dan sebenarnya trend seperti dapat diciptakan itu asal bangsa kita tidak selalu memposisikan diri sebagai satu level lebih rendah dari produsen luar negeri" Recent to the origin Country"nya Handy Irawan, di Indonesia Saat ini ada komunitas pembaca komik atau novel yang mempunyai pangsa pasar sendiri, seperti komunitas pembaca "Old Shutterhand" yang terkenal itu, ada komunitas pembaca komik Djair, atau Usyah, dan ini semua merupakan pangsa pasar yang jauh lebih besar dibanding komunitas pembaca di negara asia tenggara lainnya.


Seorang sahabat Jurnalis Connie C. Sema mengomentari catatan ini ketika tengah melihat aktivitas di sore hari JR (kereta) dari shinkana-maihama menuju ikeboru, tokyo. Sepanjang jalan aku banyak melihat warga jepang (anak sampai dengan pekerja) yang bawa komik sambil menunggu stasion perhentian. selain itu banyak juga yang main handbook games2 komik. juga di halte dan jalan-jalan. di kawasan ueno park, ginza, dan beberapa smoking area. artinya komik sudah persis seperti bacaan koran. Jadi pasar industri komik jepang menjadi bernilai "lain" ketika komik pun sudah bagian kehidupan sehari-hari mereka. gimana kita?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar