Minggu, 12 April 2009

Blue Ocean Strategy Versus Local Wisdom (Sastera Tutur Tadut )

”Adat tadut la lame baghi
Siape lagi ka neruskanye..? “
.....
dimane ade bilah
bila ade di dalam buluh
dimane bada Allah
Allah ade di dalam tubuh
(Seni Tadut sudah lama purba
siapa lagi yang akan meneruskanya ?
….
dimana ada bilah
bilah ada di dalam buluh
dimana tempat Allah
Allah ada di dalam tubuh)


Itulah bait terakhir dari sastera tutur Tadut yang dituturkan dengan miris oleh Nurbayu pada saat pementasan tadut di Hotel Horison Selasa tanggal 14 Maret 2006 yang lalu, awalnya memberikan kesan “kuno”, ”ulu” dan “Kampungan”, tetapi dia menjadi berbeda ketika dilakukan revitalisasi bentuk, dan mendapat respon dari beberapa pengamat budaya, paling tidak ada tiga artikel di tiga media cetak yang menyoroti khusus pementasan ini beberapa hari kemudian, dan sebuah TV lokal melakukan Siaran Tunda untuk program acaranya. Ternyata tadut ini memang menarik untuk ditulis, meskipun dari beintuk merupakan sastera tutur yang dituturkan pada majelis ta’lim pada tahun 1900 di daerah Besemah, tetapi dari isi, sastera tutur ini sangat kaya dengan kearifan lokal, ajaran ma’rifat, hakikat dan tarikat. Saya melihat ada benang merah antara konsep tadut dengan Konsep Blue Ocean Strategy, karena sama-sama berasal dari praktik dan pengalaman empirik tempo doeloe. Strategy ini merupakan hasil riset terhadap 30 industri antara tahun 1880 sampai tahun 2000, yang mampu bertahan terhadap persaingan. Bayangkan jika hal ini tidak ada yang meneliti dan menjadikannya sebagai sebuah strategy, maka konsep tersebut hanya akan menjadi sebuah sejarah.

Blue Ocean Strategy merupakan konsep W Chan Kim Seorang professor managemen dan strategy dari Boston Consulting Group yang ditulis bersama Renee Mauborgne, memberikan pencerahan baru bagi dunia manajemen. Buku tersebut merupakan buku manajemen bestseller dunia yang mempengaruhi konsep-konsep manajemen internasional. “Tampaknya semua strategy marketing di dunia saat ini, harus di resign dan melihat kembali strategy marketing yang dikembangkan oleh W Chan Kim” demikian penjelasan Hermawan kertajaya pada suatu seminar beberapa waktu lalu. “Sebegitu menarikkah strategy manajemen ini ?” sehingga menyita perhatian pakar-pakar marketing dunia.
Pada saat ini ada dua strategi manajemen di dalam praktik bisnis perusahaan modern, yaitu “blue ocean dan red ocean”. Dalam praktik bisnis selalu terjadi peperangan untuk memperoleh pasar, tanpa disadari bahwa mereka berperang di dalam segmen yang sama, karena segmen tersebut sudah jenuh dengan pesaing, sehingga seratus persen merah dan berdarah-darah “Red Ocean”, kondisi tersebut memperkecil segmen bagi tiap-tiap pesaing, semakin kecil segmen yang dikuasai, semakin kecil profit yang didapat. Peperangan memperebutkan “market leader” membutuhkan biaya yang tidak sedikit, terutama biaya untuk melakukan penetrasi pasar, karena setiap pesaing mempersiapkan strategi dengan biaya yang juga cukup besar. Dapat dibayangkan jika ada 100 pesaing yang sama-sama menggempur segmen pasar yang sudah berdarah-darah itu, maka akan semakin kuat semangat untuk saling mengalahkan melaui perang harga, perang diskon, dan perang promosi, tentunya di akhir pertempuran pasti ada yang knock out, atau paling tidak dirawat akibat pertempuran yang keras tersebut, padahal di dalam konsep W. Chan Kim, banyak strategi yang harus dilakukan dengan tidak harus masuk ke dalam pertarungan. Perusahan harus bisa membaca dan mendeterminasi pasar tanpa harus berhadapan dengan pesaing yang segmentasinya sudah 100 persen jenuh. Caranya dengan melakukan pembaharuan dan inovasi terhadap nilai (value inovation) produk dan jasa perusahaanya, dengan mencari segmentasi baru yang seratus persen biru “Blue Ocean”, sehingga persaingan menjadi tidak relevan dan otomatis biaya produksi dapat ditekan. Strategi ini bukan merupakan strategi untuk keluar dari kompetisi dimana segmen industry tersebut sedang berjalan, tetapi merupakan sebuah strategi dalam menciptakan pangsa pasar baru.
Salah satu cara untuk keluar dari Red Ocean Strategy dan masuk ke dalam Blue Ocean strategy, maka W Chan Kim menyediakan alat untuk melakukan identifikasi yang disebutnya Empat Kuadran Kerangka Kerja, alat ini berfungsi untuk melakukan Indentifikasi terhadap nilai “value” yang menyebabkan komponen berbiaya tinggi “high cost component” , menghapus “Eliminate” serta mengurangi “Reduce” nilai-nilai yang menyebakan komponen yang berbiaya tinggi, kemudian meningkatkan ”Raise” dan membuat “Create” inovasi nilai-nilai tersebut sehingga mendorong terciptanya komponen berbiaya rendah “low cost component” . hal ini tercermin di dalam 4 kuadran kerangka kerja Blue Ocean Strategy, yang terdiri dari ”Eliminate, Raise, Reduce dan Create”.
Berdasarkan konsep Blue Oceans Strategy terbit tahun 2005 dari W Chan Kim seorang Dr. Marketing dari Harvard yang bukunya sangat fenomenal tentang marketing yang intinya antara lain mempunyai 9 kesimpulan antara lain : Strategi Samudera Biru SSG atau BOS adalah hasil dari studi panjang satu dekade terhadap lebih dari 30 industri dan periode yang lebih dari 100 tahun (1880-2000).


SSG adalah alat diferensiasi yang simultan dan berbiaya rendah.
tujuan SSG bukan merupakan strategi untuk keluar dari kompetisi dimana industry yang sedang exis, melainkan merupakan strategi dalam menciptakan pangsa pasar baru atau blue ocean sehingga membuat kompetisi menjadi tidak relevan SSG merupakan sebuah kesatuan antara metodologi dan alat untuk membuat pengsa pasar baru Ketika inovasi terlihat secara acak atau proses ekperimen dimana wiraswasta dan merupakan putaran dari pengendalian utama sebagaimana yang diargumentasikan oleh Schumpeter dan pengikutnya- SSG merupakan metodologi yang sistematik dan dapat direproduksi dalam memkover inovasi keduanya antara perusahaan yang baru atau yang sudah eksis
Kerangka Kerja BOS dan alat-alatnya termasuk: strategy kanvas, kurva nilai, empat kerangka kerja, enam path, siklus pengalaman pembeli, peta pemanfaatan pembeli, dan index idea blue ocean
Kerangka Kerja dan peralatan ini dirancang untuk diperlihatkan secara berurut tidak hanya membangun kebijaksanaan kelompok secara efektiv dari perusahaan tetapi juga keputusan yang efektif dengan komunikasi yang mudah. BOS mencakup keduanya formula strategy dan keputusan strategy Tiga Kunci membangun konsep BOS adalah : Inovasi terhadap Nilai, menghapus point-point leadership, dan proses yang fair. Dari hasil kesimpulan terhadap buku tersebut menurut hemat kami dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam strategy marketing Bank Sumsel antara lain, bahwa perlu ada pembaharuan strategy terhadap segmen pasar dan pesaing. Didalam Konsep BOS, Segmen pasar yang Red ocean (100 persen merah dan berdarah-darah, terlalu banyak pesaing) menyebabkan high cost component karena dibutuhkan biaya yang cukup besar untuk berskompetisi pada segmentasi pasar yang red ocean, karena perusahaan selalu mengamati pesaing untuk melakukan perang, padahal segmentasi tersebut sudah 100 persen merah . Sementara kondisi tersebut diperparah dengan kondisi persaingan yang semakin keras.
Sedangkan didalam konsep BOS, perusahaan harus mencari inovasi produk segmentasi pasar baru yang benar-benar biru, karena keluarannya adalah perbaikan terhadap nilai dari red ocean ke blue ocean. W. Chan Kim menyarankan untuk menggunakan 4 kuadran kerangka kerja Blue Ocean Strategy, yang terdiri dari Eliminate, Raise, Reduce dan Create.


Kerangka Kerja Blue Ocean Strategy dan alat-alat tersebut di atas merupakan salah satu yang dapat digunakan oleh perusahaan, karena masih banyak alat yang digunakan oleh W Chan Kim antara lain strategy kanvas, kurva nilai, enam jalur, siklus pengalaman pembeli, peta pemanfaatan pembeli, dan index idea blue ocean. Kerangka Kerja dan peralatan ini dirancang W Chan Kim untuk memperlihatkan secara berurutan, tidak hanya semata-mata menciptakan kebijaksanaan kelompok secara efektif, tetapi juga keputusan yang efektif dengan sederhana. Konsep serius ini merupakan sebuah kumpulan pengalaman yang berharga, bahwa praktik-praktik manajemen yang dilakukan oleh pebisnis tempo doeloe, yang dulunya dianggap penakut karena menghindari dan keluar dari persaingan Red Ocean Strategy, ternyata saat ini menjadi sebuah stategy manajemen yang fenomenal. Sama halnya dengan kesenian Tadut yang hampir punah tersebut, jika tidak ada orang yang melakukan riset dan revitalisasi terhadap konsep-konsep kearifan lokal, maka tidak akan ada konsep atau strategy baru yang akan muncul berdasarkan pengalaman empirik tempo doeloe. Karena ternyata sastera tutur telah banyak melahirkan Disertasi Doktor bagi beberapa peneliti asing.

Sabtu, 28 Maret 2009

STRATEGI KAMPANYE VS STRATEGI PROMOSI

Suatu malam seorang sahabat saya datang ingin menawarkan mobilnya untuk dijual kepada saya. Saya juga agak heran padahal mobil tersebut masih tergolong baru, ternyata dia membutuhkan uang untuk mengikuti kampanye karena dia akan menjadi seorang caleg dari sebuah partai.


Ketika saya tanyakan apakah untuk menjadi caleg butuh dana cukup besar , menurutnya menjadi caleg saat ini tidak hanya mempunyai dana besar tetapi juga harus memahami strategi kampanye. Seorang caleg harus memahami bahasa promosi dan komunikasi pemasaran. Membuat sarana promosi sekarang memang tidak murah lanjutnya, seperti mencetak brosur, leaflet, kaos, baliho dan umbul-umbul belum lagi even –even Below The Line lainnya misalnya, ceramah di komunitas ibu-ibu arisan atau RT dan tempat tempat tertentu.


Beda sekali pada saat pemancangan ketua adat zaman dahulu dulu ada istilah "Mancang Pesirah", si calon pemimpin marga hanya diberi simbol yang sangat sederhana seperti simbol pisang, kelapa, jeruk dan jenis buah lainnya, mengapa begitu, mungkin dahulu belum ada media komunikasi seperti sekarang.

Masyarakat sekarang sudah memahami teknologi informasi, ucapnya. Saya juga agak tergagap-gagap ketika itu.

Strategi promosi yang menurut saya hanya dipahami untuk kalangan pebisnis dan orang pemasaran saja, ternyata mau tak mau harus dipahami juga Calon Legislatif, dan sebahagian menggunakan konsultan marketing untuk ini, selain pemahaman yang cukup bagus oleh para caleg dewasa ini.

Ternyata padan kata atau terminologi dari kampanye (campaign) adalah pertarungan (fight) atau perang (battle), yaitu membuat strategi untuk memenangkan pertarungan. Hal ini sama dengan strategi perang Tzun Su yang saat ini tengah hangat dibicarakan oleh beberapa kalangan bisnis dan marketing dalam memenangkan persaingan pasar.


Hal ini sangat menarik karena strategi perang Tzun Zu tidak semata – mata berkaitan dengan kata darah, peluru, atau pedang karena ada strategi untuk memenangkan perang tanpa banyak menggorbankan prajurit atau menghambur-hamburkan amunisi, misalnya dengan (zoo marketing) sebutir peluru dapat menembus ratusan bahwa ribuan target.

Melihat korelasi yang sangat erat antara pemahaman kampanye dan promosi tersebut maka secara sederhana kampanye dan promoseni bermuara ke satu kalimat “Battle of Idea” Strategi memenangkan pertarungan di benak konsumen sesuai dengan konsep positioning Al Ries dan Jack Trout.

Siapa yang sudah cukup kuat menempelkan merek ke benak konsumen (brand mindset) itu yang akan memenangkan persaingan. Penemuan terhadap media komunikasi yang berteknologi tinggi membuat strategi promosi dan pemasaran berubah sangat cepat, jika sebelumnya deal-deal transaksi perdagangan dilakukan dengan mengunakan kertas maka saat ini deal-deal transaksi hanya membutuhkan kode-kode transaksi tanpa menggunakan kertas (paperless) yang akan di kompilasi dari bilangan biner ke dalam bahasa komputer. Hal ini juga berkembang dalam melakukan kampanye dan promosi, apabila zaman dahulu ketika akan diadakan pemancangan (pemilihan ) pesirah atau kepala desa maka media pemberitahuannya cukup digunakan canang (sejenis gamelan) yang dipukul untuk menjelaskan kepada warga setempat bahwa ada pengumunan. Saat ini hal tersebut sudah jauh ditinggalkan.


Tim sukses capres atau cawapres akan menghaer konsultan media promosi yang paling canggih saat ini, untuk mempromosikan program-programnya baik dengan media above the line maupun below the line. Dan biaya untuk kampanye ini cukup besar guna memuaskan calon pemilihnya dengan harapan calon pemilihnya dapat memilih dia. Dalam marketing hal ini dijelaskan oleh Philip Kotler sebagai “satisfying needs profitability” (kepuasaan nasabah dan keuntungan mempunyai hubungan resiprositas yang sangat erat).


Perusahaan tidak semata-mata hanya mendapatkan profit yang besar tanpa memberikan kepuasaan kepada nasabah, begitupun sebaliknya. Setiap kepuasan nasabah yang diberikan oleh perusahaan harus dapat menghasilkan profit. Hal ini juga dipahami betul oleh tim sukses capres tersebut. Ada yang meggunakan spot iklan televisi, ada yang melakukan komunikasi ke pesantren, ada juga yang menggunakan komunitas artis sebagai strategi kampanye. Masing-masing mempunyai strategi yang berbeda. Dalam teori pemasaran hal tersebut dikenal dengan istilah “differentiation” , sebuah produk harus berbeda dari produk sejenis, dia harus unik di benak konsumen. Dia juga harus bisa meningkatkan penjualan “need and demand “ agar target promosinya bisa tercapai. Urusan mencapai target saya kira sama: semua ingin memenangkan sebuah peperangan. Apakah sasaran tembak peperangan klien atau calon pemilih yang kita tahu saat ini berada pada posisi menunggu.


Beberapa catatan penting yang perlu digarisbawahi oleh caleg, adalah "Memenangkan Hati Konsumen", tidak harus berbiaya besar, karena survey menunjukkan penggunaan Above The Line untuk kampanye cerdas seperti di Televisi , Radiod an Koran semakin berkurang peminatnya, selain berbiaya besar, sebahagian masyarakat sudah dapat memilah mana iklan mana program, Selain itu segmennya hanya menggapai "segmen" Long Term Perspectif , yang menurut hasil survey maksimal 20 sd 25 Masyarakat cerdas di Indonesia, sisanya adalah adalah segmen Short Term Perspectif yang sebahagian berpendidikan rendah, tidak membaca koran, jarang menonton televisi, tidak pernah mendengar "talkshow Radio" apalagi member Facebook,..

Jadi Caleg yang mampu memenangi hati 60 sd 75 segmen short term perspectif adalah yang akan dipilih oleh rakyat, segmen ini adalah segmen berpikir sangat sederhana, besrpikir untuk perspectif jangka pendek, sehigga sangat terpengaruh dengan mie instan atau sembako atau kampanye yang berbasis kesejahteraan , seperti kebutuhan primer. Selamat Berjuang


Kamis, 26 Maret 2009

HIRAGANA VERSUS KAGANGA





Saya agak terkejut juga melihat perkembangan komik jepang (manga) yang sangat luar biasa merangsek pangsa pasar bacaan anak2 SD,SMP, SMA di Indonesia, bahkan Asia Tenggara, Jika kita ke Toko Buku seperti Gramedia di Indonesia atau jaringan raksasa Toko buku KINOKUNIYA sebahagian besar adalah Komik, (manga)ka malahan anak saya “bela-bela-in” beli kamus bahasa jepang untuk belajar bahasa Jepang dan chatting di Friendster dengan teman-temanya menggunakan huruf Hiragana, mungkin dia tidak tahu sejarah kelam Bangsa ini setengah abad yang lewat dimana sosok dan kekejaman Dai Nippon untuk menguasai Asia Timur begitu menyengsarakan rakyat, tetapi saat ini komik Jepang begitu luar biasanya mempengaruhi remaja di tanah air, sehingga anak-anak di Indonesia sangat mengenal dan mengidolakan tokoh-tokoh Komik Imajiner seperti NARUTO, DEWI KARIN CHU, SIGO CHARAI, KIYOSHIRO YUMEMIZU, ketimbang karya komik local yang memang hampir tidak ada, boro-boro mau memahami Aksara Kaganga, atau Sastera Tutur guritan Radin Swane, hal ini wajar saja karena sebahagian besar komik yang beredar di Indonesia (hampir 80 persen) adalah Karya dari Mangaka negeri Matahari Terbit tersebut.


Kita tidak protes dengan sejarah Penjajahan Jepang di Indonesia, tetapi yang mungkin kita protes adalah merasuknya Komik-komik Jepang di Indonesia lebih karena penerbit di Indonesia dan perilaku Konsumen di Indonesia masih memposisikan diri selalu lebih rendah satu level dari penerbit luar Negeri.
Padahal membaca komik merupakan sebuah trend yang dapat diciptakan, karena Menurut Adam Smith "Suplies its create owns demands" bukan hanya create by "supply and demand", seperti fenomena trend batik yang muncul kembali beberapa waktu yang lalu, fenomena marketing tanaman gelombang cinta atau fenomena walkman, dan sebenarnya trend seperti dapat diciptakan itu asal bangsa kita tidak selalu memposisikan diri sebagai satu level lebih rendah dari produsen luar negeri" Recent to the origin Country"nya Handy Irawan, di Indonesia Saat ini ada komunitas pembaca komik atau novel yang mempunyai pangsa pasar sendiri, seperti komunitas pembaca "Old Shutterhand" yang terkenal itu, ada komunitas pembaca komik Djair, atau Usyah, dan ini semua merupakan pangsa pasar yang jauh lebih besar dibanding komunitas pembaca di negara asia tenggara lainnya.


Seorang sahabat Jurnalis Connie C. Sema mengomentari catatan ini ketika tengah melihat aktivitas di sore hari JR (kereta) dari shinkana-maihama menuju ikeboru, tokyo. Sepanjang jalan aku banyak melihat warga jepang (anak sampai dengan pekerja) yang bawa komik sambil menunggu stasion perhentian. selain itu banyak juga yang main handbook games2 komik. juga di halte dan jalan-jalan. di kawasan ueno park, ginza, dan beberapa smoking area. artinya komik sudah persis seperti bacaan koran. Jadi pasar industri komik jepang menjadi bernilai "lain" ketika komik pun sudah bagian kehidupan sehari-hari mereka. gimana kita?

KI GEDE ING SURO versus KI GEDE In MARKETING

Pada tanggal 27 Agustus 2005 lalu setelah rapat kerja Direktur Bank Pembangunan Daerah Seluruh Indonesia (BPDSI) berakhir, saya menemani pak Hafid Star dan pak Yudhi motor penggeraknya asosiasi bank pembangunan daerah (ASBANDA) untuk city tour keliling palembang, menyusuri situs peninggalan Kesultanan Palembang Darusalam.
City Tour kami dimulai dari pelataran plaza benteng kuto besak hingga pinggiran”loji’’sungai sekanak dan di simpang suro ini dinamai jalan ki gede ing suro, entah sejak kapan . Menurut keterangan teman saya ,Ki Gede Ing Suro adalah julukan seorang dalam bahasa palembang berarti kyai yang di besarkan dalam tradisi surau atau mesjid. Ki gede ing suro adalah nama julukan pendiri kesultanan palembang darusalam. konon kabarnya mesjid suro adalah salah satu mesjid yang didirikannya. karena pada era kesultanan fungsi masjid menjadi sangat penting dimana sultan, ulama,dan masyarakat sering melakukan aktivitas ibadah ,maupun muamallah secara bersama dimana keberadan suro/sarau pada zaman kesultanan sangat penting
Para ulama besar di Masjid Agung Palembang secara tradisional merupakan guru dan penasihat Sultan sejak remaja, maka tak heran ulama besar pada zaman kesultanan seperti Syech Abdussamad Al Palembani adalah salah seorang yang dikenal di tanah Melayu, karena kitab-kitab yang ditulisnya
Konon kabarnnya sebagian besar kitab-kitab kuning yang diajarkanya menjadi pegangan sebagian besar ulama dan santri di Malaysia.Meski tak sepopuler Syech Yusuf (atau Tuan Yusuf dari Makasar)yang menyebarkan agama islam di Cape Town Afrika Selatan atau Ki Merogan atau Kiai Muara Ogan yang legendaris itu, atau Tan di Pulau, yang menyebarkan Islam melalui Sungai Komering dan memipunyai personal branding yang sangat kuat terhadap ma'mumnya.
Tetapi peran Abdussamad Al Palembani di Palembang dan beberapa wilayah di Sumatera tak dapat disepelekan. Lain dulu lain sekarang, jika dahulu para pemuda memfokuskan aktivitasnya di surau atau langgar, saat ini para pemuda lebih suka nongkrong di Mall atau Kafe Mereka, para pemuda itu bisa kita sebut ‘gede in mall’atau ‘gede in kafe’’ atau besar dalam tradisi Cafe atau Mall.
Lalu apa kaitan antara Ki Gede ing suro dan Marketing?
dalam tarikh islam antara aktivitas ulama dalam beribadah dengan muamallah (berdagang)merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan dari tradisi islam.
Islam masuk ke Samudera Pasai pada abad ke 13 disebarkan oleh pedagang dari Gujarat (asia Barat)yang sembari berdagang juga melakukan ‘syiar’
Hari ini kita melihat sosok itu muncul kembali di Indonesia lewat Da’i sejuk Abdullah Gymnastiar. Abdullah Gymnastiar lebih dekat dipanggil Aa’Gym (penyebutan ‘Aa’ sebagai akronim kakak memberikan nuansa lain dalam tradisi keulamaan di Indonesia, coba dibandingkan dengan penyebutan ‘Gus’ dalam pesantren Jawa Timur sebagai dari Akronim bagus) pada awalnya tidak ‘Gede Ing Suro ’( besar dalam tradisi pesantren)tetapi ‘Gede in Marketing ’’ alias besar di pasar.
Aa Gym yang kini memiliki lebih dari 30 perusahaan yang bermacam-macam itu memiliki bakat Marketing luar biasa , sehingga membuat ahli Marketing terkagum –kagum kepadanya, termasuk Hermawan Kertajaya.
Hermawan –pakar pemasaran itu perlu menambahkan point Spiritual Quotient di dalam konsep Humansentric Marketingnya, selain Intelligent Quotient dan Emotional Quotient. Menurut Aa Gym ada tiga kiat bisnis yang ia gunakan .
pertama adil, dengan adil tak ada yang teraniaya dan tak ada yang sakit hati dan disakiti (jika konsep ini dilanggar akan besar pengaruhnya) ,
kedua transparan, dengan transparan tidak ada yang ber buruk sangka karena bukti kejujuran yang sangat penting dalam bisnis .
ketiga,saling menguntungkan agar semua bahagia .
Sedangkan dalam mengembangkan produk dan jasanya, Aa Gym mempunyai 5 mu,
Mutu(Good Quality ),Murah(Good price),Mudah (Good Place ),Mutakhir (modern), dan multi manfaat .kiat-kiat tersebut merupakan kiat-kiat yang telah teruji dalam MQ Corporation ,perusahaan yang mempunyai banyak segmen bisnis , mulai dari pernerbitan ,percetakan,televisi,cottage, hotel, cafe,supermarket dll .
Semua kiat bersumber dari al quran dan hadits. Dan pada prinsipnya kiat-kiat tersebut prinsipnya universal dan lintas agama ,tidak untuk muslim saja ,karena konsep tersebut adalah’Rahmatan Lil Alamin’’bermanfaat bagi seluruh alam .Pada bulan September 2005 Hermawan bersama Tim Mark plus menerbitkan buku Aa Gym Aspiritual Marketer yang juga melibatkan editor Adiwarwan Azwar Karim yang menjelaskan 10 prinsip dalam melaksanakan marketing yang jujur .
Hermawan mendekatinya dengan pemahaman marketing modern dengan sepuluh kredo mulai dari love your constumer sampai kepada Gather relevant information , but use wisdom in making your final decision .
Konsep lain yang menggabungkan pemahan manajemen perbankan dan agama islam yang tertuang dalam buku A. Riawan Amin Tokoh perbankan Syariah yang menulis “The Celestial Management” (manajemen langit )dengan prinsip 3W Workship ,Wealth, dan Welfare)yang cukup signifikan dalam manajemen Bank Muamalat. prinsip itu diimplemetasikan melalui tiga konsep yaitu The Phisolophy of remembrance, ZIKR,(ZeroBase, Iman, Konsisten, Result Oriented).
Hal ini menunjukkan dikotomi antara Suro dan Marketing ternyata merupakan pemahaman yang sejalan dan saling melengkapi dalam tradisi Perniagaan Islam (prinsip syariah)Akhir-akhir ini banyak pemikiran marketing dan manajemen modern yang berorientasi kepada pemikiran tentang ‘spiritual’. berbisnis dengan mengutamakan nilai-nilai keimanan, berbisnis dengan jujur, berbisnis dengan hati, dan bisnis yang ber manfaat bagi semua alam, tidak mengesplorasi sumber daya secara berlebihan.tampaknya pemikiran ini sedang berkembang di dunia barat karena pandangan marketing melihat kejujuran dalam berbisnis adalah sebuah “value”, bahkan “brand” yang dapat berkembang multi ras dan multi agama.
Dari kedua dikotomi tersebut kita juga berharap agar kita juga tidak semata-mata menjadi’Gede in marketing’’saja, tetapi juga ‘gede ing suro’’ kaya dengan pemikiranya rohani atau seperti Gde Prama yang selalu menyejukkan dengan kata-kata yang bertempo sedang dengan timbre suara yang juga menyejukkan dalam pemikirannya tentang keseimbangan alam semestaBagaimana dengan kital sendiri apakah juga seperti Ki Gede Ing suro?
Mungkin manajemen terpicu dengan pemikiran spritual atau bisnis syariah memang menjanjikan, mengingat Bisnis Perbankan Syariah merupakan Bisnis Perbankan yang cukup menjanjikan maka insya Allah Bulan Maret ini Bank Sumsel Syariah akan meluncurkan Produk Gadai Emas Syariah , Naam! Ahlan Wa sahlan

Minggu, 08 Maret 2009

Wacana M. Iqbal J. Permana

MONEY LAUNDERING VERSUS PAPAN BASUAN

APABILA kita menyebut kata ‘CUCI’ maka kita akan teringat dengan budaya kebersihan yang artinya membersihkan sesuatu dengan air.Budaya mencuci bangsa melayu yang sejak zaman dahulu telah diwarisi dalam kebudayaan melayu,terutama budaya mencuci untuk daerah-daerah aliran sungai di sumatera.Kata mencuci sepertinya merupakan kegiatan rutin yang hampir setiap hari dilakukan oleh masyarakat Sumsel yang daerahnya dialiri sungai. Banyak istilah daerah untuk menyebut perangkat mencuci,seperti‘papan basuan,papan bilesan,telesan,bong,lanting’dan lain-lain yang digunakan mulai dari mencuci pakaian,mencuci beras,sampai kegiatan Mandi Cuci Kakus. Dalam kebudayaan modern sekarangpun telah dibuat perangkat mencuci secara elektronis menggunakan dinamo listrik yang menjadi trend budaya mencuci kaum metropolis saat ini.

Tetapi kata cuci menjadi seram ketika dikaitkan dengan terminologi keuangan dan perbankan seperti kata “cuci uang” atau money loundering.Perangkatnya menjadi lebih rumit dan medianya tidak lagi air, bong atau lanting tetapi sudah merambah ke media yang sangat cangggih seperti cyber banking, money market dalam bentuk placement dan transfer dana dan capital market dalam bentuk pembelian saham.



Lalu apa hubungan antara papan basuhan dengan money laundering?Sebenarnya keduanya mempunyai fungsi yang sama yaitu untuk membersihkan.Kalau papan basuhan fungsinya untuk mencuci pakaian yang kotor menjadi bersih,maka money launderingberfungsi untuk mencuci uang kotor atau uang haram menjadi uang yang bersih sehingga uang hasil kejahatan tersebut menjadi hilang jeleknya dan dapat dipergunakan dengan aman.Sehingga dapat disimpulkan bahwa masyarakat biasa dan penjahat pencuci uang ternyata mampunyai haikat yang sama yaitu sama-sama mencintai kebersihan.Hanya benda yang dicuci membedakannya selain itu kalau masyarakat akan mencuci pakaian dia akan ke sungai, maka penjahat akan pergi ke bank atau ke pasar saham untuk mencuci uangnya.

Bank memang tempat yang paling rawandalam kegiatan pencucian uang karena pekerjaan bank adalah mengelolah uang masyarakat yang mempunyai risiko-risiko operational yang juga cukup tinggi,sehingga bank dituntut untuk mengelola risiko tersebut menjadi sebuah profit.Pengelolaan tersebut biasanya dalam bentuk manajemen risiko serta peraturan perundang undangan seperti UU Nomor 15 tahun 2002 tentang tindak pidana pencucian uang.Di dalam undang-undang tersebut juga dibentuk “mesin anti pencucian uang”atau secara formal disebut PPATK (Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan) dan peraangkat hukum lainnya.[K]

Sabtu, 07 Maret 2009


JAMES GWEE versus PARAMESWARA
“ The Tales of Two City



Tak pelak lagi James Gwee adalah Motivator paling laris di Indonesia saat ini, termasuk juga di Palembang, terutama teknik – teknik memotivasi karyawan, dan materi lainnya, seperti handling complaint professionality, professional Telephone Skill and Customer Service dan seminar-seminarnya selalu dipenuhi oleh tenaga pemasar dan front liner dari berbagai perusahaan, mengapa seminar James selalu dipenuhi peserta padahal materi seminarnya bukan materi yang luar biasa, dan sudah sering dibawakan oleh tenaga pengajar lainnya, banyak orang yang mengatakan jika factor utamanya adalah kemampuan presentasi James yang luar biasa disertai networking Media yang cukup baik, plus James adalah orang Singapura peranakan Melayu yang mampu memahami prilaku orang Indonesia dengan baik dan sangat fasih berbahasa Indonesia, sementara sebahagian besar professional Singapura dididik dengan bahasa pengantar Inggris, dan Mandarin, selain itu positioning Singapura selalu dipersepsikan satu level lebih tinggi dari Jakarta, apakah pendidikan, disiplin, efisiensi, dan prilakunya cenderung dianggap lebih baik dan menjadi Inspirasi orang-orang Asia Tenggara. Jadi apapun barang dan jasa yang dibranded dari singapura di persepsikan orang Indonesia pasti lebih baik, padahal belum tentu, sebahagian besar materi tekstil banyak berasal dari Indonesia, dan di branded di Singapura dengan harga yang lebih tinggi. Kemampuan menggali dan membuat perubahan ini juga mereka tunjukkan ketika orang-orang pemerintahan di Singapura mau Libur sehari untuk memahami strategi baru tentang Marketing “Blue Ocean Marketing” .

Lalu apa kaitannya James Gwee dengan Parameswara, ternyata ada kaitan histrorical marketing yang sangat kuat, karena strategi marketing pertama di Singapura dan Melaka justru diajarkan oleh leluhur orang Palembang. Dengan kata lain siasat bisnis pertama dalam perdagangan pada abad ke 14 diajarkan oleh parameswara hingga ke raja-raja Melaka selanjutnya. Di dalam Sejarah Melayu dan Sejarah Indonesia Parameswara adalah bangsawan Palembang yang lahir tahun 1334 M yang Hijrah ke Temaseek (Singapura) ketika Sriwijaya ditaklukan Majapahit dan dia berhasil membangun Bandar di Singapura dan Malaka pada abad ke 14 , di dalam catatan buku kuntala Sriwijaya dan Swarnabumi karangan DR Slamet Mulyana, dijelaskan bahwa Parameswara adalah bangsawan yang mempunyai bakat bisnis yang luar biasa dan mampu mengelola pelabuhan Malaka berkat kemampuan dan pengalaman dari leluluhurnya di Palembang dalam mengelola pelabuhan Melayu (jambi). Pada masa itu Parameswara mampu memaksa kapal-kapal yang berlayar di Selat Melaka untuk singgah, dan bongkar muat di Pelabuhan Malaka, serta memungut biaya dari pemakaian gudang dan lalulintas pelayaran di Selat Malaka. Desa Malaka yang tadinya merupakan desa nelayan dan tanah yang tandus menjadi ramai sebagai Bandar tempat persinggahan, semenjak itu berubahlah desa nelayan menjadi kota pelabuhan dengan gudang-gudang penyimpanan yang lengkap, ternyata kemampuan Bisnis ini didapat ketika dia masih menjadi bangsawan di Palembang, Menurut buku sejarah peradaban manusia zaman Sriwijaya bahwa pada pertengahan abad 14, Palembang dikelola oleh seorang Demang (Mahapatih ) yang Sangat bijak yaitu Demang lebar Daun, dan dari hikayat yang lain menyebutkan bahwa nama Singapura diberikan oleh pameswara dan Demang Lebar daun ketika melakukan ekpedisi ke Temasek/Tumasik.



Menurut versi Portal Resmi Kerajaan Negeri Melaka. Sejarah Melaka bermula ketika Parameswara putera raja dari Palembang telah terlibat dalam peperangan merebut takhta kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-14. Setelah ditumpas oleh Majapahit, dan lari mencari perlindungan ke Temasik yang pada ketika itu dikuasai oleh Siam. Setelah diusir dari Temasik oleh penjajah dari Siam, pada tahun 1396, beliau dan pengikut-pengikutnya mengundurkan diri ke Muar dan kemudian ke Sungai Ujong sebelum singgah di Bertam yang berdekatan dengan muara sungai Melaka.


Pilihan Parameswara begitu tepat sekali karena kedudukan Melaka yang strategik. Lokasinya di tengah-tengah tebing Selat Melaka yang menghubungkan negara China ke India dan Timur telah menjadikannya tempat yang amat sesuai sebagai pusat perdagangan. Kedatangan pedagang-pedagang Arab serta pedagang-pedagang dari Timur dan Barat telah menjadikan Melaka sebagai sebuah pelabuhan (Bandar) yang sibuk dengan ratusan kapal yang singgah setiap tahun. Parameswara yang telah memeluk Islam melalui seorang ulama dari Jeddah pada tahun 1414 telah meletakkan asas kemajuan negeri Melaka sebagai pusat perdagangan dan pengembangan agama Islam yang terulung di rantau ini.


Melaka terus terkenal sebagai pusat perdagangan Melayu di Timur. Antara barang dagangan yang terdapat di Melaka adalah sutera dan porselin dari China, kain dari Gujarat serta Coromandel di India, kapur barus dari Kalimantan, cendana dari Timor, buah pala dan bunga cengkih dari Malaka, emas dan lada hitam dari Sumatera serta timah dari Tanah Melayu.


Di dalam sebuah Workshop “ The Tale of Two City” yang di selenggarakan MarkPlus bulan Juni yang lalu Hermawan Kertajaya memandu dua pembicara pertama setiadi Ongko orang Indonesia yang mampu menaklukan Singapura dengan Atelier Eastnya di bidang Properti, yang kedua adalah James Gwee orang Singapura yang berhasil menaklukan Indonesia, yang mengungkapkan tentang stategi marketing James dalam menaklukan Pasar Indonesia Untuk Bisnis training, dan betapa James berkesimpulan tidak ada strategi marketing yang tepat untuk Indonesia karena prilaku manusianya yang heterogen dan dia melihat bahwa pasar Indonesia merupakan pasar yang besar dan konsumtif ” Huge and Hungry Market” , apapun yang di lempar di Jakarta pasti dibeli oleh orang Jakarta sedangkan di Singapura semua sangat efisien, efektif, padahal abad ke 14 yang lalu nenek moyang orang Palembanglah yang berhasil membangun perdagangan di Malaka dan Singapura, mengapa sekarang tidak walahualam, Paling tidak spirit yang muncul pada masa swarnabumi dan Sriwijaya tersebut menghilhami kita tentang keteguhan hati, semangat membangun yang tinggi, dengan keterbatasan sumberdaya, kedisiplinan, kebijakan, Demang lebar Daun dan Parameswara untuk bangkit, dan tampaknya spirit itu telah mulai muncul di Sumsel pada strategi pelabuhan Samudera Tanjung Api-api dan konsep kota taman yang memberi warna baru kota Palembang dan di Bank Sumsel spirit itu muncul lewat Giro Demang (Lebar Daun). seorang sahabat mahapatih sahabat parameswara.

Percaya?

MEMBACA PASAR vs MEMBACA RAMALAN


Ada yang menarik dari Simon Jonathan, seorang konsultan marketing yang juga praktisi Marketing dan juga bintang iklan sebuah produk perawatan gigi, ketika menjadi pembicara dalam sebuah Seminar Marketing yang digagas oleh kawan-kawan dari Asosiasi Manajemen Sumsel, AMA pada tanggal 2 Desember 2006 yang lalu tentang Marketing Driver Quotient (MTQ). Menurut dia, produk-produk yang sukses dilaunching di pasar di lakukan oleh mereka yang memiliki kecerdasan dalam mengendalikan pasar, orang, dan perusahaan. Simon menyebutnya MDQ untuk membedakan Inteligent Quotient (IQ) dan Emotional Quotient (EQ) atau Spiritual Quotient (SQ). Simon yang membidani lahirnya produk Ekstra Jossminuman energi dalam sachet produk unggulan Bintang Toedjoemengaku betapa sulitnya meyakinkan sebuah visi kepada atasannya. “Minuman kok kayak bubuk detergent,” cemooh atasannya ketika itu. Tetapi Simon tetap berkeras hati dan akhirnya berhasil meyakinkan atasannya, dengan melakukan launching di kota-kota kecil dahulu, mengingat atasannya ingin mendapatkan benefit langsung dengan sales yang cukup tinggi dalam waktu singkat. Karena launching produk baru untuk seluruh area biayanya sangat tinggi. Setelah hasilnya memuaskan, barulah Bintang Toedjoe melaunching produk ini secara besar-besaran. Tetapi bukan berarti setiap produk selalu berhasil. Nyatannya produk Irexsuplemen simbol kejantanan priatidak begitu sukses dalam penjualan, meskipun iklan Irex sangat berpengaruh dalam mindset masyarakat. Disini jelas terlihat bahwa terkadang sebuah komunikasi atau promosi yang sukses tidak serta merta berbanding lurus dengan salesnya, meskipun promosi berhasil belum tentu salesnya berhasil. Menurutnya kegagalan tersebut disebabkan oleh benefit produknya sendiriefek depan yang di harapkan dari sebuah planning yang matang, tetapi efek samping yang kadang-kadang muncul ketika produk tersebut masuk ke pasar ujarnya sambil berseloroh

Simon memberikan tiga kunci dalam me”launching sebuah produk. Pertama adalah Mastery yang mensyaratkan bahwa kita harus benar-benar ahli dan memahami fitur dan benefit produk yang akan kita buat.Kemudian Desire, bahwa kita harus bersemangat dalam memahami produk serta mempunyai Quantum yang tepat. Kecerdasan marketing ini juga menuntut kemampuan untuk mekihat kedepan seperti visi dan proyeksi yang detail dan jelas.

Sebuah produk yang berhasil di pasar kadangkala tidak semata-mata hanya mengandalkan riset,segmentasi,targetin,positionig\ng,serta survey yang memadai tetapi juga harus diikuti dengan visi, wisdom, experience dari produsen serta trend dari perilaku konsumen.sama halnya dengan produkConsummer Banking”seperti tabungan,giro deposito,kartu debit,kartu kredit, yang sebagian besar mengandalkan teknologi informasi sebagai pendukungnya (IT BASE) sebagai basis untuk menunjang layanan perbankan terkini.Orientasi menabung sebagai alat untuk berjaga-jaga paling tidak telah mengalami perubahan fungsi,orientasi nasabah telah bergeser ke fungsi transaksi dan pembayaran di mana produk tabungan selalu di kaitkan dengan fungsi cek saldo,transfer,pembaayaran tagihan,telepon,listrik,isi pulsa,bayar SPP,sampai pembelian tiket pesawat dan lainnya,sehingga sangat signifikan tabungan sangat kecil kolerasinnya dengan fluktuasi suku bunga,tetapi berkolerasi secara signifikan denagn fungsi layanan.


Jika service level sebuah layanan TI di bawah 70%-80% saja, maka pertumbuhan tabungan akan terpengaruh sangat signifikan, bahkan sampai terjadi pemindahan dana ke bank pesaing. Basis TI diperlukan untuk meningkatkan jumlah nasabah, semakin besar nasabah, semakin besar fee base incomennya. Pendapatan dari fee base di atas 1 trilyun rupiah tahun ini diraup oleh bank BCA, Bank Mandiri dan BNI. Basis fee base ini didukung oleh TI yang kuat, ternyata ternd ini juga menjalar ke BPD di Indonesia,di mana pertumbuhan dana pihak ketiga melonjak 60,40% lebih besar dari rata-rata pertumbuhan dana pihak ke tiga perbankan nasional yang hannya tumbuh13,50% dari angka perbandingan bulan Agustus tahun 2005 di banding Agustus 2006.

Pada November dan Desember semua perusahaan yang mempunyai visi telah melakukan proyeksi untuk tahun 2007.Ada yang mengguankan teori Ekonomi dari Hardvard untuk proyeksi,tetapi ada juga yang menggunakan fengsui untuk menerawang peruntungan di tahun 2007.Tahun depan adalah tahun babi api yang diyakini sebagai tahun keamanan bagi perekonomian,sebab air dan api merupakan element penting dalam kehidupan.Begitu juga beberapa pebisnis dan percaya primbon,pasti telah menghitung hari pasaran,weton,untuk memulai bisnis,rebo pahing kah?,atau jum`at wage kah?begitupun di dunia perbankan,banyak prediksi,proyeksi,bahkan ramalan dari pakar maupun cenayang tetap dijadikan petunjuk bisnis dalam membaca pasar,yang pasti pertarungan di dunia bisnis tahun 2007 akan semakin seru dan penuh persaingan.

Godo Tjahyono, Technical Advisor IARFC yang juga menjadi narasumber kinerja bank, meramalkan bahwa sektor riil akan mencapai peaking up,dunia usaha yang bagus dijadikan pilihan investasi,antara lain telekomunikasi, otomotif, properti dan perbankan. Sementara bank Indonesia meramalkan pertumbuhan ekonomi tahun 2007 juga akan membaik dengan turunnya BI rate diikuti dengan membaiknya indikator ekonomi makro bulan oktober, november 2006. Tingkat validitas dari sebuah proyeksi ditentukan oleh sumber data yang masuk. Semakin lengkap data yang dikumpulkan baik data primer maupun sekunder, maka akan semakin kecil tingkat penyimpangan proyeksi (error). tetapi proyeksi juga dapat menyimpang jauh dari yang di harapkan jika faktor eksternal yang diramalkan berubah secara drastis. Sama halnya dengan proyeksi yang dihasilkan oleh buku primbon dan fengshui, jika salah menetapkan hari, tanggal, tahun lahir, atau posisi lokasi tempat usaha, jumlah genap ganjil undakan tangga, maka ramalan akan meleset sama sekali. Sekarang terserah kita apakah berminat menggunakan jasa cenayang seperti Mama Laurens, Madame Sahara atau pakar fengshui untuk membantu proyeksi peruntungan bisnis kita tahun 2007. Jika perlu pakar ekonomi ECONIT, INDEF, atau Harvard untuk membantu menyusun proyeksi bisnis, atau bahkan menggabungkan proyeksi bisnis, atau bahkan menggabungkan keduannya Wallahu`alam. (Desember 2006)